Paklik!

Paklik.. paklik.. lantang bocah berseragam abu-abu putih memanggilku. Wajahku diusia yang baru menanjak 18 tahun ini mungkin sudah terlihat tua baginya, atau karena potongan kumisku yang terlihat seperti bapak penjual soto diwarung sebelah. Faktanya aku hanya seorang lulusan baru sebuah SMA yang gagal menduduki bangku kuliah. Mungkin memang aku yang kurang berusaha dulu, sampai akhirnya tersasar di bangku operator sebuah warung internet.

Fay namanya, ia satu-satunya yang pertama kali memanggilku dengan sebutan paklik. Sejak pertama kali ku mulai menjadi operator, ia sudah sering menggarap tugas sekolahnya di warung internet yang ku jaga, atau hanya sekedar mampir tuk berinternet ria. Tak jarang ia juga membawa teman kelasnya untuk menyelesaikan tugas sekolah. Ketidaktahuan, serta wajah manisnya membuatku tak menolak untuk sering membantu menyelesaikan tugas sekolah miliknya, yang menurutku juga agak merepotkan bagi anak seumurannya.

Sering pula ia menyisipkan cerita kesehariannya diantara obrolan kami, dan secara alami selalu ku tanggapi curhatnya dengan baik. Kedekatan kami pun semakin tumbuh, mungkin alasannya datang pun bukan lagi untuk keperluan tugasnya. Awal keseharianku sebagai operator warung internet selalu disisipi senyum manisnya. Namun akhir-akhir ini kusadari ia tak kunjung datang, entah sibuk dengan urusannya atau mungkin .. Toh akupun tak pernah berharap, tapi semoga kau baik saja.