Jancuk, Asu, Ngateli

Jancuk, Asu, Ngateli
Jancuk, Asu, Ngateli

Bagi masyarakat daerah jawa, jawa timur utamanya kata-kata Jancuk, Damput, Asu, dan Ngateli bukanlah suatu hal yang tidak asing bagi mereka. Khususnya bagi para remaja di seluruh jawa timur. Karena seolah-olah kata-kata tersebut dianggap sebagai bahasa tren mereka tanpa menyinggung perasaan satu sama lain.

Meskipun sangat familiar bagi para kaum remaja, bagi para orang tua atau orang lain kata-kata tersebut bukanlah hal yang pantas untuk didengar, karena bermakna negatif. Jancuk atau jancok berasal dari kata "di encuk", yaitu "di tusuk" saat melakukan hubungan intim. Seiring bejalannya waktu kata ini berubah dan yang awalnya digunakan sebagai umpatan, mungkin sekarang ini sudah mulai terasa biasa saja bagi mereka.

Jancuk, djancuk diancuk, dancuk, damput.Arti kata damput tidak jauh berbeda dari dancuk. Kata "damput" berasal dari kata "di amput", yang berarti "di apit" saat melakukan hubungan intim juga. Begitu juga dengan kata diamput yang seiring berjalannya waktu menjadi umum bagi kalangan kaum remaja.

Asu, Jaran, Wedus, Jangkrik. Mungkin kata ini sudah menyebar secara umum, karena walaupun sering juga diumpatkan, dari segi bahasa berarti sebutan bagi hewan yang bisa dikatakan levelnya dibawah manusia. Tentunya siapa sih yang mau disamakan dengan hewan.

Ngateli, kata ini berasal dari kata "gatel" yang ditambahkan dengan "li" yang artinya pel*. Jika diartikan ke bahasa indonesia berarti kemaluan laki-laki atau penis. Jadi kata ini berarti gatal pada kemaluan laki-laki. Sedangkan ngapleki mungkin pengertian secara umum ialah bikin kesal. Di kediri kata gaplek lebih terkenal, biasanya diplesetkan menjadi lagu bagi para anak kediri (ini hanya menurut sumber lain sih, hehe).

Dari kata-kata diatas yang telah dibahas, cenderung tidak pantas untuk digunakan bagi orang jawa yang terkenal utamanya dengan sopan santun dan tata krama yang tinggi, terutama bagi yang lebih tua.